Sejarah Desa
Sebuah desa agraris dengan tradisi budaya yang masih terjaga, serta memiliki potensi wisata alam dan pertanian di Kabupaten Probolinggo.
Dahulu kala, di atas lahan sawah milik Pak Artamo dan Pak Saripan yang terletak di Blok Kombeng, tumbuh sebuah pohon besar yang rindang bernama pohon seccang. Pohon ini memiliki keunikan tersendiri karena di bawahnya terdapat sumber mata air berupa sumur. Selain itu, pohon seccang sering menjadi tempat berkumpul sejenis kumbang, yang berkembang biak di sana. Akibat dari keberadaan kumbang-kumbang tersebut, masyarakat sekitar lalu menamai lokasi ini sebagai “Sumur Kombeng.”
Pada masa itu, Sumur Kombeng dipercaya oleh penduduk setempat sebagai tempat yang angker dan menyeramkan. Meski memiliki reputasi mistis, sumur ini tetap dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber utama mata air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terlebih lagi, bagi para pekerja yang tengah membuka hutan guna dijadikan lahan persawahan dan tempat tinggal, sumur ini sangat membantu. Tak heran jika Sumur Kombeng kemudian menjadi lokasi yang cukup dikenal di kalangan masyarakat sekitar. Saat tiba waktunya penamaan desa di era Gajah Mada sekitar tahun 1820-an, para sesepuh memutuskan untuk mengabadikan keberadaan sumber mata air tersebut dengan menyematkan nama “Sumber Kombeng” sebagai nama desa. Namun, nama itu ternyata tidak bertahan lama.
Sebuah kejadian yang meresahkan masyarakat mulai mengguncang kehidupan di Sumber Kombeng. Masalah muncul ketika bentuk sumber mata air yang awalnya berupa sumur diubah menjadi aliran air terbuka dengan tujuan mempermudah akses untuk mengambil air. Namun, setelah perubahan tersebut dilakukan, warga yang memanfaatkan air dari sumber itu mulai menghadapi musibah: sebagian jatuh sakit parah, dan bahkan empat orang meninggal dunia dalam waktu singkat. Kejadian tragis ini memperkuat anggapan masyarakat bahwa tempat tersebut memiliki kekuatan gaib yang membawa petaka.
Di tengah kepanikan dan kekhawatiran warga, seorang sesepuh desa (yang biasa dipanggil Bujuk) menerima petunjuk lewat mimpi. Dalam mimpi itu, ia diberi isyarat agar nama Desa Sumber Kombeng diganti menjadi “Sumber Secang” demi mencegah korban berikutnya. Usul tersebut diterima oleh masyarakat, dan nama baru pun disematkan pada desa. Hingga saat ini, nama Desa Sumber Secang terus digunakan sebagai bagian dari warisan sejarah lokasi tersebut. Selain itu, Sumur Kombeng yang dahulu dianggap keramat menjadi pusat berbagai ritual dan tradisi masyarakat, termasuk upacara “Ojung.” Upacara ini biasanya digelar untuk meminta hujan saat musim kemarau panjang melanda. Tradisi tersebut berlangsung hingga tahun 1990, setelah itu kegiatan upacara “Ojung” secara perlahan ditinggalkan oleh masyarakat setempat.
EST.
1980
Indeks Desa Membangun (IDM)
Status: MAJU (2024)
Ketahanan Sosial
Pendidikan, Kesehatan, Modal Sosial & Permukiman
Ketahanan Lingkungan
Kualitas Lingkungan & Tanggap Bencana
Ketahanan Ekonomi
Lembaga Ekonomi, Kewirausahaan & Industri
Apa itu IDM?
Indeks Desa Membangun (IDM) adalah alat ukur status perkembangan desa ke arah yang lebih mandiri dan sejahtera.
Pencapaian SDGs Desa
Sustainable Development Goals (SDGs) adalah 18 tujuan berkelanjutan untuk kemajuan Desa.
Data Belum Sinkron
Pencapaian 18 tujuan SDGs Desa Sumbersecang sedang dalam proses sinkronisasi dengan server pusat Kemendesa.
Wilayah Dusun
Mengenal pembagian wilayah dusun di Sumbersecang
Dusun Krajan
Kepala Dusun: Budi Santoso
Dusun Sengon
Kepala Dusun: Siti Aminah
Dusun Patemon
Kepala Dusun: Lela Susilo
Dusun Beberen
Kepala Dusun: Nanang Sudrajat
Kontak Kami
Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut
info@desasumbersecang.id
Telepon
081234567890
Kode Pos
67292
Lokasi Desa
Desa Sumbersecang